Dakwah memang mudah, Kawan..
jika kita mngartikannya hanya sebatas saling memberi tahu dan mengingatkan.
Dakwah memang mudah, Kawan...
jika kita hnya berdasar pada kalimat, "Sampaikanlah walau satu ayat."
Dakwah memang mudah, Kawan...
jika kita tak benar-benar menyadari makna kata-kata yang kita ucapkan.
Tapi dakwah tak benar-benar mudah, Kawan...
jika kita tak pula menerapkan apa yang telah kita ketahui.
Tapi dakwah tak benar-benar mudah, Kawan...
jika kita menganggap "pelanggaran kecil" yang kita lakukan takkan mengurangi imbalan atas apa yang telah kita sampaikan pada orang lain.
Kawan, dakwah bil lisan memang terasa mudah. Seolah-olah kita akan mampu merubah segala kemungkaran yang terjadi hanya dengan mengatakan "JANGANLAH" atau "HENDAKLAH".
Tapi, Kawan...
Dakwah akan terasa lebih bermakna dan lebih mengena bila kita mengimbanginya dengan dakwah bil hal.
Karena dengan begitu, kita akan mampu menjadi cermin yang jernih bagi semua orang di sekitar kita...
Karena dengan begitu, penegakan amar ma'ruf nahi mungkar akan terasa lebih mudah.
percayalah, Kawan.
-- Sebuah sindiran untuk diri sendiri --
Tampilkan postingan dengan label Islam Corner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Corner. Tampilkan semua postingan
Kamis, 01 Desember 2011
Cerita Belasan Tahun Lalu
Rindu aku pada suasana masa kecilku..
Saat itu bocah2 kecil yang lugu selalu berlari untuk menuju surau tiap sore menjelang.
Tertawa lepas..
Berusaha untuk menjadi orang yang pertama menjejakkan kaki disana...
Tiap masuk waktu sholat, surau2 seolah berlomba-lomba untuk memperdengarkan puji-pujian merdu dari bibir mungil para generasi muda itu...
TPA (Taman Pendidikan Al-Qur‘an) telah menjadi rumah yang nyaman untuk mengeja setiap hijaiyah dari wajah-wajah yang haus akan ilmu.
Tersenyum lebar...
Setiap kali dinyatakan lulus untuk melanjutkan ke tingkat Iqra‘ yang lebih tinggi.
Memasang raut suka cita...
Saat dinyatakan layak untuk melanjutkan ke Al-Qur‘an.
Praktik sholat menjadi begitu hidup oleh suara2 nyaring yang berkolaborasi dengan otak agar dapat menghafal bacaan sholat beserta gerakannya.
Selingan darling (tadarus keliling) menambah semangat untuk mengaji tartil dan tilawah dengan lebih baik. Demikian pula dengan semangat ukhuwah islamiyah...
Beberapa kali kegiatan mabit (menginap) di TPA diselenggarakan dengan suasana penuh warna. Gelak tawa, celoteh riang, sedu sedan, bahkan teriakan kesal di sela-sela kegiatan Islami turut menyemarakkan malam yang penuh hangat kekeluargaan itu..
Peringatan hari besar Islam menjadi waktu yang tepat untuk berkeliling kota. Pawai membawa bunga, telur, dan obor.
Menebar senyum ke semua orang yang berjajar di tepi jalan...
Dini hari di bulan Ramadhan, riuh rendah oleh tabuhan kenthongan dan seruan untuk beranjak bangun.
Melupakan rasa kantuk yang bergelayut di mata yang membulat itu..
Belasan tahun berlalu...
Bocah2 lugu itu seolah menghilang begitu saja.
Menjelma menjadi sosok lain yang sulit untuk dikenali.
Langkah kaki ke surau berubah haluan menuju tempat yang penuh bisikan maksiat.
Bibir yang dulu sering memuji kebesaran Sang Pencipta, kini lebih suka mengeluarkan makian dan umpatan.
Tartil dan tilawah itu lenyap berganti menjadi senandung lagu.
Kegiatan mabit bermetamorfosis menjadi acara menginap di rumah seorang kawan, tanpa memperhitungkan manfaat dan mudharatnya lagi.
Peringatan hari besar Islam tak seceria dulu. Takbir sering disamakan dengan dentuman musik yang memekakkan telinga.
MalamRamadhan yang disibukkan dengan persiapan membangunkan warga, beralih untuk menyibukkan diri dengan bercengkrama sambil memutar musik tanpa peduli buaian mimpi orang di sekitar...
Rindu aku pada suasana masa kecilku...
Saat kawan2ku berteriak lantang..
KAMI BANGGA PADA ISLAM!!!
Saat itu bocah2 kecil yang lugu selalu berlari untuk menuju surau tiap sore menjelang.
Tertawa lepas..
Berusaha untuk menjadi orang yang pertama menjejakkan kaki disana...
Tiap masuk waktu sholat, surau2 seolah berlomba-lomba untuk memperdengarkan puji-pujian merdu dari bibir mungil para generasi muda itu...
TPA (Taman Pendidikan Al-Qur‘an) telah menjadi rumah yang nyaman untuk mengeja setiap hijaiyah dari wajah-wajah yang haus akan ilmu.
Tersenyum lebar...
Setiap kali dinyatakan lulus untuk melanjutkan ke tingkat Iqra‘ yang lebih tinggi.
Memasang raut suka cita...
Saat dinyatakan layak untuk melanjutkan ke Al-Qur‘an.
Praktik sholat menjadi begitu hidup oleh suara2 nyaring yang berkolaborasi dengan otak agar dapat menghafal bacaan sholat beserta gerakannya.
Selingan darling (tadarus keliling) menambah semangat untuk mengaji tartil dan tilawah dengan lebih baik. Demikian pula dengan semangat ukhuwah islamiyah...
Beberapa kali kegiatan mabit (menginap) di TPA diselenggarakan dengan suasana penuh warna. Gelak tawa, celoteh riang, sedu sedan, bahkan teriakan kesal di sela-sela kegiatan Islami turut menyemarakkan malam yang penuh hangat kekeluargaan itu..
Peringatan hari besar Islam menjadi waktu yang tepat untuk berkeliling kota. Pawai membawa bunga, telur, dan obor.
Menebar senyum ke semua orang yang berjajar di tepi jalan...
Dini hari di bulan Ramadhan, riuh rendah oleh tabuhan kenthongan dan seruan untuk beranjak bangun.
Melupakan rasa kantuk yang bergelayut di mata yang membulat itu..
Belasan tahun berlalu...
Bocah2 lugu itu seolah menghilang begitu saja.
Menjelma menjadi sosok lain yang sulit untuk dikenali.
Langkah kaki ke surau berubah haluan menuju tempat yang penuh bisikan maksiat.
Bibir yang dulu sering memuji kebesaran Sang Pencipta, kini lebih suka mengeluarkan makian dan umpatan.
Tartil dan tilawah itu lenyap berganti menjadi senandung lagu.
Kegiatan mabit bermetamorfosis menjadi acara menginap di rumah seorang kawan, tanpa memperhitungkan manfaat dan mudharatnya lagi.
Peringatan hari besar Islam tak seceria dulu. Takbir sering disamakan dengan dentuman musik yang memekakkan telinga.
MalamRamadhan yang disibukkan dengan persiapan membangunkan warga, beralih untuk menyibukkan diri dengan bercengkrama sambil memutar musik tanpa peduli buaian mimpi orang di sekitar...
Rindu aku pada suasana masa kecilku...
Saat kawan2ku berteriak lantang..
KAMI BANGGA PADA ISLAM!!!
Dua Puluh Satu Jalan Tol Menuju Surga
Bismillahirrohmanirrohiim..
Bicara tentang surga, pasti semua orang ingin menjadi penghuninya. Tapi tidak sedikit dari kita yang mengatakan...
“Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk beribadah. Aku juga belum mampu menjalankan semua perintah Allah.“
hmm...ketahuilah teman...surga Allah memang mahal harganya karena hanya dapat digapai dengan kesungguhan dan kerja keras. Tapi, ada beberapa amalan ringan yang mampu menjadi jalan tol untuk menuju surga lo! Jalan ini selain bebas hambatan, juga bebas biaya tentunya.
Berikut ini adalah contoh beberapa amalan ringan untuk menuju surga Allah.
1. Mau (mau masuk surga berarti harus dibuktikan dengan taat pada Allah dan meneladani Rasulullah)
2. Tidak musyrik
3. Menyingkirkan gangguan (misal, memungut paku di tengah jalan)
4. 3+1 (shalat,zakat,silaturahim+tidak menyekutukan Allah)
5. Memberi bantuan emergency (termasuk memberi minum anjing yang kehausan)
6. Sayyidul istighfar
7. Menjawab azan (lebih utama bila segera beranjak untuk sholat)
8. 4 in 1 (dalam satu hari melakukan puasa, melayat jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit)
9. Menghafal Asmaul Husna (sambil memahami makna dan penjelasannya, serta mengimaninya)
10. Menjaga Shubuh dan Ashar (tapi bukan berarti boleh melalaikan sholat 3 waktu lainnya)
11. Memahami La Ilaha Illallah
12. 4 to paradise (bila seorang perempuan mengerjakan sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat pada suaminya)
13. Berperasaan Burung (berperasaan lembut dan tawakal. Menurut sebagian ulama, yaitu perasaan takut pada Allah karena burung adalah binatang yang paling takut pada Allah)
14. Shalat Shunnah
Bicara tentang surga, pasti semua orang ingin menjadi penghuninya. Tapi tidak sedikit dari kita yang mengatakan...
“Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk beribadah. Aku juga belum mampu menjalankan semua perintah Allah.“
hmm...ketahuilah teman...surga Allah memang mahal harganya karena hanya dapat digapai dengan kesungguhan dan kerja keras. Tapi, ada beberapa amalan ringan yang mampu menjadi jalan tol untuk menuju surga lo! Jalan ini selain bebas hambatan, juga bebas biaya tentunya.
Berikut ini adalah contoh beberapa amalan ringan untuk menuju surga Allah.
1. Mau (mau masuk surga berarti harus dibuktikan dengan taat pada Allah dan meneladani Rasulullah)
2. Tidak musyrik
3. Menyingkirkan gangguan (misal, memungut paku di tengah jalan)
4. 3+1 (shalat,zakat,silaturahim+tidak menyekutukan Allah)
5. Memberi bantuan emergency (termasuk memberi minum anjing yang kehausan)
6. Sayyidul istighfar
7. Menjawab azan (lebih utama bila segera beranjak untuk sholat)
8. 4 in 1 (dalam satu hari melakukan puasa, melayat jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit)
9. Menghafal Asmaul Husna (sambil memahami makna dan penjelasannya, serta mengimaninya)
10. Menjaga Shubuh dan Ashar (tapi bukan berarti boleh melalaikan sholat 3 waktu lainnya)
11. Memahami La Ilaha Illallah
12. 4 to paradise (bila seorang perempuan mengerjakan sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat pada suaminya)
13. Berperasaan Burung (berperasaan lembut dan tawakal. Menurut sebagian ulama, yaitu perasaan takut pada Allah karena burung adalah binatang yang paling takut pada Allah)
14. Shalat Shunnah
15. Mendermakan jasa (misal, meminjamkan motor pada orang yang membutuhkan, secara cuma2)
16. Sabar saat sakit
17. Sabar ditinggal mati
18. Mengasuh anak yatim (membawanya ke rumah dan mengasuhnya layaknya anak kita sendiri)
19. Menyayangi anak
20. Keep 2 holes (menjaga lisan dan kemaluan)
21. Menginfakkan sepasang jodoh (segala sesuatu yang digandengkan dengan temannya dapat disebut jodoh. Misal, 2 ekor kuda, busur dan anak panahnya, atau motor lengkap dengan bensinnya)
***
Tapi hendaklah kita tidak berpikir bahwa hanya dengan menempuh salah satu dari amalan2 tersebut seseorang akan masuk surga, karena penghuni surga hanyalah orang2 bertakwa yang menunaikan kewajiban syariat kepada Allah. Kewajiban syariat itu tidak kita bahas disini. Bila amalan2 tersebut diibaratkan jalan tol, maka kita juga membutuhkan SIM A, STNK, dan mobil dengan keadaan fit.
Setelah itu, barulah kita bisa memilih jalan yang menurut kita paling cepat untuk menuju surga. Selamat mencoba..!
16. Sabar saat sakit
17. Sabar ditinggal mati
18. Mengasuh anak yatim (membawanya ke rumah dan mengasuhnya layaknya anak kita sendiri)
19. Menyayangi anak
20. Keep 2 holes (menjaga lisan dan kemaluan)
21. Menginfakkan sepasang jodoh (segala sesuatu yang digandengkan dengan temannya dapat disebut jodoh. Misal, 2 ekor kuda, busur dan anak panahnya, atau motor lengkap dengan bensinnya)
***
Tapi hendaklah kita tidak berpikir bahwa hanya dengan menempuh salah satu dari amalan2 tersebut seseorang akan masuk surga, karena penghuni surga hanyalah orang2 bertakwa yang menunaikan kewajiban syariat kepada Allah. Kewajiban syariat itu tidak kita bahas disini. Bila amalan2 tersebut diibaratkan jalan tol, maka kita juga membutuhkan SIM A, STNK, dan mobil dengan keadaan fit.
Setelah itu, barulah kita bisa memilih jalan yang menurut kita paling cepat untuk menuju surga. Selamat mencoba..!
(Penjelasan lebih rinci dapat dibaca di "Kalau ke Surga Mudah, Ngapain Susah2 ke Neraka?" - Erwan Roihan)
I'm Akhwat (?)
Akhwat.
Kami memang belum pantas disebut sebagai akhwat,,, meskipun banyak yang memanggil kami dengan sebutan itu.
Namun, kami tak ingin terus menjadi wanita biasa.
Akhwat. Wanita. Perempuan. Semuanya sama. Hanya persepsi banyak orang yang membuatnya berbeda.
Akhwat.
Kadangkala kami malu pada sebutan itu. Bukan malu karena kami Islam. Bukan malu pula karena penampilan kami yang sedikit berbeda. Akan tetapi, kami malu atas perilaku dan hati yang masih seringkali berbuah dosa.
Kami belumlah menjadi seorang akhwat seutuhnya…
Kata orang, akhwat identik dengan bersikap lembut…
Mungkin kami belum.
Kami masih sering berlaku dan berucap kasar. Sering melukai orang lain dan lalai atau enggan untuk meminta maaf.
Kata orang, akhwat identik dengan totalitas amar ma’ruf nahi mungkar…
Mungkin kami belum.
Beberapa kali kami mengingatkan saudara-saudari yang lain, rupanya lebih sering kami menyalahinya sendiri. Terlalu asyik memerhatikan kesalahan orang lain untuk kami ingatkan, hingga tak menyadari kesalahan apa yang telah kami perbuat selama ini.
Kata orang, akhwat identik dengan hafal Al-Quran…
Mungkin kami belum.
Terlalu bangga pada tilawah yang mampu kami lantunkan, hingga lupa bahwa kami harus beranjak ke tingkatan selanjutnya. Mentadabburi, menghafal, serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak cukup hanya mampu membacanya, tentu saja.
Kata orang, akhwat identik dengan jauhnya penyakit hati…
Mungkin kami belum.
Seringkali kami mengeluh bila hati mengadu, kesal bila merasa sial, iri bila kawan menggapai mimpi, bahkan cemburu yang sebenarnya tak perlu.
Kata orang, akhwat identik dengan menjaga pandangan pada para ikhwan…
Mungkin kami belum.
Kami masih kesulitan untuk menundukkan pandangan, terutama saat berkomunikasi tentang hal-hal yang perlu konsentrasi lebih. Banyak orang yang baru bisa paham topik pembicaraan ketika sedikit memandang lawan bicara. Termasuk kami, mungkin.
Kata orang, akhwat identik dengan menjaga hati…
Mungkin kami belum.
Memang, kami tahu bahwa cinta itu fitrah. Namun, kami masih belum mampu membedakan antara cinta karena-Nya dan “cinta” karena nafsu belaka. Ingin rasanya cinta itu datang nanti saja sehingga ia menjadi anugerah. Bila “cinta” itu telah datang saat ini, kami menganggap itu ujian untuk membuktikan bahwa kami mampu melaluinya. Dengan anggun, tanpa bercampur dengan nista.
Kami belumlah menjadi seorang akhwat seutuhnya…
Maka, jangan menilai para akhwat melalui perbuatan kami semata..
Kami masih berupaya sekuat tenaga untuk bisa seperti mereka…
Ingatkanlah ketika kami alpa,
Doronglah ketika kami merasa lelah,
Semangatilah ketika kami mulai berputus asa…
Kami masih berupaya sekuat tenaga untuk bisa seperti mereka…
Mereka yang memutuskan untuk berada dalam ranah dakwah…
Mereka yang akan selalu istiqomah di jalan-Nya…
Serta, mereka yang selalu berpegang pada satu niat : lillahita’ala…
“Dakwah ibarat sebuah kereta. Ia akan berhenti di tiap stasiun untuk menjemput penumpang selanjutnya. Ia juga akan meninggalkan penumpang yang memutuskan untuk turun dan tidak lagi berminat menempuh perjalanan yang masih panjang. Perjalanan yang berliku, terjal, dan sangat tidak nyaman bagi orang-orang yang belum terbiasa. Namun, ketahuilah bahwa tujuan kereta ini sangat mulia. Mengharapkan ridho dan rahmat Allah swt.” (LDK3 II IMMSI 2011)
_SudutBumi_
Ditulis tgl 02 Mei 2011 (23.03 WIB)
Dipostkan tgl 07 Juni 2011 (07.34 WIB)
Kami memang belum pantas disebut sebagai akhwat,,, meskipun banyak yang memanggil kami dengan sebutan itu.
Namun, kami tak ingin terus menjadi wanita biasa.
Akhwat. Wanita. Perempuan. Semuanya sama. Hanya persepsi banyak orang yang membuatnya berbeda.
Akhwat.
Kadangkala kami malu pada sebutan itu. Bukan malu karena kami Islam. Bukan malu pula karena penampilan kami yang sedikit berbeda. Akan tetapi, kami malu atas perilaku dan hati yang masih seringkali berbuah dosa.
Kami belumlah menjadi seorang akhwat seutuhnya…
Kata orang, akhwat identik dengan bersikap lembut…
Mungkin kami belum.
Kami masih sering berlaku dan berucap kasar. Sering melukai orang lain dan lalai atau enggan untuk meminta maaf.
Kata orang, akhwat identik dengan totalitas amar ma’ruf nahi mungkar…
Mungkin kami belum.
Beberapa kali kami mengingatkan saudara-saudari yang lain, rupanya lebih sering kami menyalahinya sendiri. Terlalu asyik memerhatikan kesalahan orang lain untuk kami ingatkan, hingga tak menyadari kesalahan apa yang telah kami perbuat selama ini.
Kata orang, akhwat identik dengan hafal Al-Quran…
Mungkin kami belum.
Terlalu bangga pada tilawah yang mampu kami lantunkan, hingga lupa bahwa kami harus beranjak ke tingkatan selanjutnya. Mentadabburi, menghafal, serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak cukup hanya mampu membacanya, tentu saja.
Kata orang, akhwat identik dengan jauhnya penyakit hati…
Mungkin kami belum.
Seringkali kami mengeluh bila hati mengadu, kesal bila merasa sial, iri bila kawan menggapai mimpi, bahkan cemburu yang sebenarnya tak perlu.
Kata orang, akhwat identik dengan menjaga pandangan pada para ikhwan…
Mungkin kami belum.
Kami masih kesulitan untuk menundukkan pandangan, terutama saat berkomunikasi tentang hal-hal yang perlu konsentrasi lebih. Banyak orang yang baru bisa paham topik pembicaraan ketika sedikit memandang lawan bicara. Termasuk kami, mungkin.
Kata orang, akhwat identik dengan menjaga hati…
Mungkin kami belum.
Memang, kami tahu bahwa cinta itu fitrah. Namun, kami masih belum mampu membedakan antara cinta karena-Nya dan “cinta” karena nafsu belaka. Ingin rasanya cinta itu datang nanti saja sehingga ia menjadi anugerah. Bila “cinta” itu telah datang saat ini, kami menganggap itu ujian untuk membuktikan bahwa kami mampu melaluinya. Dengan anggun, tanpa bercampur dengan nista.
Kami belumlah menjadi seorang akhwat seutuhnya…
Maka, jangan menilai para akhwat melalui perbuatan kami semata..
Kami masih berupaya sekuat tenaga untuk bisa seperti mereka…
Ingatkanlah ketika kami alpa,
Doronglah ketika kami merasa lelah,
Semangatilah ketika kami mulai berputus asa…
Kami masih berupaya sekuat tenaga untuk bisa seperti mereka…
Mereka yang memutuskan untuk berada dalam ranah dakwah…
Mereka yang akan selalu istiqomah di jalan-Nya…
Serta, mereka yang selalu berpegang pada satu niat : lillahita’ala…
“Dakwah ibarat sebuah kereta. Ia akan berhenti di tiap stasiun untuk menjemput penumpang selanjutnya. Ia juga akan meninggalkan penumpang yang memutuskan untuk turun dan tidak lagi berminat menempuh perjalanan yang masih panjang. Perjalanan yang berliku, terjal, dan sangat tidak nyaman bagi orang-orang yang belum terbiasa. Namun, ketahuilah bahwa tujuan kereta ini sangat mulia. Mengharapkan ridho dan rahmat Allah swt.” (LDK3 II IMMSI 2011)
_SudutBumi_
Ditulis tgl 02 Mei 2011 (23.03 WIB)
Dipostkan tgl 07 Juni 2011 (07.34 WIB)
Langganan:
Postingan (Atom)